03 Maret 2012

Meureudu (Merdu) Pidie Jaya, jejak kota tua Aceh yang hilang

Yipiiii yeee, kali ini cerita perjalanannya menjelajah ke Indonesia bagian barat, Kota Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam. Dulunya masuk dalam wilayah Kabupaten Pidie namun dimekarkan menjadi kabupaten tersendiri dengan nama Pidie Jaya.

Merdu (...susah nulis Meureudu) termasuk salah satu kota tua yang berada di provinsi Aceh, menurut sejarah, Merdu sudah ada sejak abad ke-4, kemudian pada abad ke 16-an sempat dijadikan kota singgah oleh sultan Iskandar Muda sebelum melakukan penyerangan ke malaka, tapi ada pula yang mengatakan itu merupakan misi dagang.

Ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di Merdu, salah satunya pantai Khutang Trienggading, ada peninggalan sejarah disana. dipesisir pantai tampak pemandangan benteng pos pengamatan/pertahanan milik tentara jepang/belanda (Kuro-kuro) di masa perang dunia kedua.
Beberapa benteng yang terpendam semua mengarah sisi pemantauannya ke arah selat Malaka, sepertinya dipakai untuk memantau perairan disana di masa perang dunia II





pantai khutang trienggading Meuredu
Klik gambar untuk memperbesar

Sayang belum dimanfaatkan sebagai tujuan wisata sejarah, sehingga banyak yang belum tahu. Lebih banyak orang tahu di Meureudu adanya hanya pantai Manohara yg terletak di kota Merdu.

Menurut infonya Merdu lebih banyak menyimpan lokasi artefak kuno dibanding daerah Aceh lainnya, karena mulai ditemukannya jejak-jejak peradaban sebelum Islam disana. Belum lagi sisa-sisa jejak sejarah masa Belanda dan Jepang yang masih bisa dipoles agar bisa dikunjungi seperti sisa-sisa kereta-api yg dulu pernah ada di Merdu.

Ada yang menarik di Merdu, pemda setempat sedang membangun landmark baru untuk kota Merdu. Tidak jauh dari kota Merdu sedang dibangun kompleks kantor pemerintahan setempat yang indah dan megah. Yang unik dari jalan utama menuju ke kompleks kantor pemerintahan yang baru ini adalah dibangunnya jalan layang dengan hamparan sawah dibawahnya, sesuatu yang tidak umum di daerah karena biasanya didaerah dibangun jembatan layang. Nampak sekali kota ini mulai bangun dari tidurnya dengan pembangunan dimana-mana, mudah-mudahan tak lama lagi Merdu bisa mengembalikan kejayaan dulu (..dulunya Merdu sempat akan dipilih menjadi ibukota kerajaan Aceh lho).











Jangan lupa menghabiskan waktu malam di Merdu dengan mengunjungi kedai kopi CiRasa di tengah kota Merdu, ada Bang Danny disitu yang siap menyajikan kopi Aceh Pidie yang racikannya mantab nian...!


Minum kopi Sambil ngemil roti bolu dan cane, malam di Merdu semerdu deburan ombaknya...

Warung/Kedai Kopi CIRASA Meureudu(merdu) Pidie Jaya, Aceh
cheersss...!!

02 Januari 2012

Pulau Bacan (Batjan Island)

Pulau Bacan (Batjan) adalah salah satu gugusan pulau-pulau yang dimiliki Provinsi Maluku Utara terletak di sisi selatan dari Provinsi tersebut. Cara paling mudah dan murah untuk mencapai Pulau Bacan adalah menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Bastiong Pulau Ternate yang terjadwal 3 kali seminggu (Pulau Ternate merupakan salah satu pulau utama Prov. Maluku Utara yang terdapat segala macam jadwal pemberangkatan kapal udara ataupun kapal laut ke pulau-pulau sekitarnya maupun ke provinsi-provinsi lain).

Jadi, jika dari Jakarta enaknya terbang dulu ke Ternate, kemudian melanjutkan dengan kapal laut dari dari pelabuhan Bastiong Kota Ternate selama kurang lebih 8 hingga 10 jam ke pelabuhan Babang Bacan. Kalau mau lebih cepat bisa menggunakan pesawat perintis dari bandara Baabulah Ternate ke Bandara Usman Sadik Bacan, tentu saja dengan harga yang lebih berlipat-lipat dibandingkan dengan harga tiket kapal laut, ada beberapa maskapai lokal yang melayani dari Bandara Baabulah ternate ke Bandara Usman Sadik Bacan seminggu beberapa kali.

Walaupun naik kapal laut lebih murah, sayangnya kapal dari Pulau ternate ke Pulau Bacan berangkatnya malam hari, sehingga kita tidak bisa melihat keindahan pulau-pulau yang dilewati. Padahal perjalanan dari gugusan pulau satu ke pulau yang lain pemandangannya sangat menawan dan jalur laut ini bisa menjadi aset utama untuk mempromosikan pariwisata Provinsi Maluku Utara yang begitu indah.

anak anak di pelabuhan babang pulau bacan
anak anak di dermaga pelabuhan Babang pulau Bacan maluku utara
Sesampainya di Pelabuhan Babang Pulau Bacan kalau perjalanannya aman biasanya pagi-pagi sekali dan kita bisa menggunakan mikro (angkot =angkutan kota) untuk menuju ibukota kabupaten di Pulau Bacan yaitu Kota Labuha. Kalau berombongan lebih baik angkotnya di carter saja biar tidak ngetem (menunggu) terlalu lama.

Bacan identik dengan batu kristalnya, padahal tidak cuma itu tapi banyak tempat-tempat yang bisa di kunjungi di Pulau Bacan.

Benteng Bernevald adalah benteng yang dibangun oleh Portugis di abad ke-15. Jika sekarang dilihat letaknya tidak lagi di pinggir pantai, mungkin dulunya benteng berdiri di pinggir pantai untuk mengawasi pantai dan laut sekitarnya.

Bentuknya jika dilihat dari satelit (google earth) tampak seperti bintang dimana disisi-sisinya dipasang meriam yg tentu saja jaman dahulu kala sepertinya mengarah ke laut.

Begitu kita masuk ada sumur tua yang sudah tidak terpakai dan ada tangga yang menuju ke lantai atas. Di atas benteng Bernevald kita bisa berkeliling melihat-lihat pemandangan pantai dan perkampungan penduduk. Ada beberapa Meriam yang umurnya sudah ratusan tahun teronggok pinggir didinding benteng.


Jika di pugar dengan serius pastilah lokasi benteng Bernevald menjadi lokasi wisata sejarah yang menarik.


Di dekat lokasi Benteng Bernevald ada Mesjid Sultan Bacan. Mesjid yang tergolong cukup besar untuk ukuran daerah. Kebetulan pas waktu sholat, jika terbiasa sholat di masjid-masjid di pulau jawa, maka di Masjid Sultan Pulau Bacan akan merasakan aura yang berbeda dengan Mesjid lain. Karena keterbatasan waktu, belum banyak informasi yang bisa digali dari Masjid Sultan Bacan ini jadi cukup foto-fotonya dulu.

Yang paling dicari dan yang paling menjadi primadona Pulau Bacan adalah Batu Bacan yang sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia khususnya bagi para penggemar batu perhiasan.

di Pulau Bacan ternyata juga tinggal suku laut Bajo, ada yang menetap di pulau Bacan ada juga yang banyak menetap di pesisir pulau sekitarnya. Biasanya turis yang mau mengunjungi kampung Bajo cukup menyewa perahu sekitar 15 menitan dari pulau Bacan.

Sore-sore di Pulau Bacan paling enak nongkrong di Sueri, lokasi di teluk yang pemandangannya ke pulau-pulau sekitarnya dan perkampungan penduduk di pesisir pantai . Sambil ngopi-ngopi dan makan cemilan disana, bisa menghabiskan waktu yang terasa lambat dan tenang.

09 September 2011

jalan jalan ke Gua Pawon

Kalau cuma tahunya Bandung itu surga belanja, berati belum tahu, Bandung juga surganya Gua (dalam bahasa sunda disebut Guha), selain ada gua belanda/jepang di taman ir juanda, ada juga gua alam di seputaran padalarang yaitu gua Pawon

Untuk jalan-jalan ke tempat yang satu ini, bener-bener bikin Bambam ma Agit terkaget-kaget, karena baru sekarang nemu Gua yang serius, bukan Gua rumah sponge Bob yang ada di kp. Gajah lembang hehehee...

Yap betul, Gua Pawon, adalah situs purbakala yang lokasinya sangat dekat dengan Bandung, 8 km dari pintu tol Padalarang atau sekitar 10-15 menit dari situ Ciburuy.

Gua Pawon bukanlah gua yang sangat besar, tapi Gua Pawon sangat cukup menyenangkan dijelajahi untuk keluarga, apalagi jaraknya yang boleh dikatakan dekat dari Kota Bandung. Tidak perlu repot-repot karena dekat dengan jalan utama, banyak tempat makan, minimarket bahkan ada kolam renang didekatnya.

Masuk ke gua Pawon serasa kita dibawa menjelajah ke masa ribuan tahun lalu dimana masa lalu sepertinya tukang bakso belum ada. Hati-hati pas masuknya karena jalannya curam dan berbatu-batu tajam.


Begitu masuk kita disuguhi oleh bau khas kelelawar yang menyengat, tapi ga usah tutup hidung karena setelah melewatinya kita disuguhi lukisan alam lain yang menakjubkan


Jalan didalamnya sudah dibuat sedemikian rupa oleh warga/pemda sehingga kita tinggal ngikutin aja.


lorong-lorongnya menembus dari sisi satu ke sisi lain memperlihatkan pemandangan daerah Padalarang yang menakjubkan


Klik gambar untuk memperbesar

Satu sisi terlihat hamparan sawah hijau, sisi lain tampak bukit-bukit batu yang tampak keras dan tua termakan jaman. Kalau matanya masih tajam, bisa lihat di beberapa bukit sebelah terdapat tangga-tangga yang menjulur ke lubang-lubang gua kecil, katanya masih ada penggalian-penggalian kecil untuk mencari penemuan lain.

Ada satu sudut didalam gua nampak lukisan yang dibuat oleh alam, seperti berada di dunia lain.


Didalam inti gua atasnya berlubang besar, hingga cahaya siang matahari bisa terang benderang menerangi dalam gua, nampak tekstur dan pori-pori gua bisa dilihat dengan jelas, seperti karang di laut.
Menurut hasil penelitian, sekitar > 25 juta tahun lalu, kota Bandung dan sekitarnya merupakan laut dangkal dimana salah satu daerahnya (Padalarang) perlahan-lahan terangkat/airnya menyurut menjadi jajaran pegunungan.


Ada yang menarik dari gua pawon, ada fosil manusia purba meringkuk didalamnya (ga tahu nih mana yang bener, kata yang jaga di pintu, fosil asli di musium geologi atau tapi ada yg bilang juga ada di Gua pawon ini), menurut literatur yang tersebar di internet, fosil manusia di dalamnya dikatakan manusia Pawon karena unik dan tidak ditemukan di lokasi lain.


Hebatnya lagi ada artefak batu-batu yang ditemukan disini ada persamaan dengan batu yang ditemukan di daerah Kendan Nagreg, bisa dibayangkan, apabila bukti-bukti arkeologi itu benar, maka jalur dari Padalarang hingga Nagreg adalah jalan raya manusia purba, Hmmm mungkin semacam dunia Mr.Flinstone kali yeee ..hehehehe

Oh ya jangan lupa mengunjungi musium pawon di perkampungan penduduk, katanya akan dilengkapi artefak-artefak yang pernah dan akan ditemukan disekitar gua pawon. Rencananya jalan menuju lokasi akan diperbagus.



Karena masih ada waktu, iseng-iseng cari tahu kenapa sebelum masuk jalan utama ke Gua Pawon kering kerontang (belum musim ujan) tetapi perkampungan dan persawahan yang deket banget dengan gua Pawon justru ijo royo-royo, tidak nampak kekurangan air. Ternyata di antara celah batu-batu raksasa yang kokoh ada mata air mengalir jernih banget. Tidak heran dulu daerah ini disebut 'Cinyusuan', kurang-lebih artinya air untuk menyusui.


Buat keluarga yang hobby berpetualang dan yang senang dengan suasana masa lalu banget, Gua Pawon wajib jadi menu ketika bosan mengunjungi Bandung yang itu lagi ..yang itu lagi ..belanja

27 Juli 2011

Air Terjun Curug Cinulang


Kebetulan libur panjang sudah usai, saat kita jalan-jalan ke seputaran kota Bandung lagi. Kalau di musim liburan udah pasti tempat wisata di Bandung kayak cendol dan macet, jadi mendingan kalau mau santai sesudah musim liburan aja.

Bambam ma Agit kemaren pengen liat air terjun yang beneran, bukan yang bo'ongan ataupun buatan. Setelah diitung-itung yang paling deket dan yang paling murah-meriah plus pemandangannya cukup keren kita putuskan ke curug Cinulang di Cicalengka.

Curug artinya air terjun, Curug Cinulang atau Air Terjun Cinulang ada di daerah Cicalengka Kab. Bandung berbatasan dengan kab. Sumedang tapi resminya curug ini berada di wilayah Sumedang walaupun lebih dekat ke Bandung, sekitar 35 km dari alun-alun Bandung, kalau dari bypass soekarno-hatta lebih dekat lagi, ngga nyampe satu jam sudah sampai, pokoknya beberapa menit sebelum tanjakan nagreg ada petunjuknya.

Curug cinulang merupakan tempat wisata air terjun yang sangat mudah dijangkau dari Kota Bandung, dari tempat parkir ke lokasi air terjunnya juga cukup dekat, sehingga cocok untuk mengajak orang yang malas jalan jauh.

Yang menarik dari tempat ini ada dua sisi air terjun, ada yang sisi memiliki dua semburat air deras dan ada sisi yang hanya dialiri air tidak begitu deras. Kedua sisi air terjun ini berjarak sekitar +100 meteran.

air terjun water fall cinulang


curug/air terjun cinulang
Selain itu, kalau berani, air terjunnya bisa didekati dengan jarak yang sangat dekat dan merasakan deburan air jatuh di badan, dijamin beberapa menit bisa menggigil kedinginan. Nah untuk yang membawa anak kecil bisa ke air terjun yang satu lagi, aliran airnya sepoi-sepoi, tidak deras.

Mungkin ini uniknya lokasi air terjun Curug Cinulang ..bisa merasakan sensasi beli ba'so di aliran air terjun hahahaha... plus warung-warung bertebaran di deket air terjun, lagi berendem tinggal ngacung nanti bisa dianterin gorengan sama kopi wkwkwkw... Coba kalau tertata rapih, warung-warung dan tukang dagang ga sembarangan disana, pasti jadi salah satu lokasi air terjun dengan pemandangan yang eksotis.

Menyebrangi aliran airnya (sungai) lewat jembatan kita sudah diwilayah Sumedang, jalan menanjak dengan tangga sudah di semen sehingga tidak licin. Ada pondok-pondok buat duduk-duduk, kalau jalan keatasnya lagi ada lahan bisa di pakai Camping.

Bambam ma Agit lebih senang bermain-main di air terjun yang alirannya kecil, apalagi bisa lihat pelangi secara langsung.



Udah cape bermain, bersih-bersih dulu di kamar mandi dekat Mushola di atas dekat pintu masuk baru pulang. Oh ya... sepanjang perjalanan ketika di dekat curug cinulang ada kolam renang juga namanya kolam renang dampit dan juga ada tempat wisata lain seperti flying fox, pemancingan dan tentu saja ada rumah makan/restaurant dengan view yang indah.

16 Mei 2011

Sejarah legenda batu kukumbung

legenda batu kukumbung, dari beberapa cerita yang pernah ada, yang paling keren gini ceritanya :

Alkisah setelah Prabu Kian Santang berguru untuk mencapai kedigjayaan ilmu yang tertinggi yang ada di alam jagad raya ternyata ada di Mekah, justru membawa dia kepada Islam. Maka kembalilah dia ke Pajajaran hendak menyampaikan kabar baik (Islam) kepada ayahhandanya Prabu Siliwangi.

Namun Prabu Siliwangi menolak ajaran tersebut, dikisahkan terjadi pertarungan hebat dengan para pengawal Sang Prabu Siliwangi pendekar-pendekar sakti mandraguna Pajajaran. Bagi Kian Santang sangatlah mudah mengalahkan mereka, hingga akhirnya Kian Santang berhadapan dengan ayahandanya sendiri, Prabu Siliwangi.

Sang Prabu Siliwangi memilih tidak bertarung dengan anaknya dan menghilang dalam kesenyapan, Kian Santang terus berusaha mencari ayahandanya hingga ke Cidaun pesisir pantai Jayanti Cianjur, bertemulah mereka disana, Prabu Siliwangi yang marah menghentakkan kakinya diatas batu besar dan lenyap ditelan bumi. Salah satu Istana Kerajaan Pajajaran ditepi pesisir cianjur tersebut juga tiba-tiba lenyap tak berbekas.

Saat ini, untuk hutan/istana tempat Prabu Siliwangi menghilangkan diri lebih dikenal dengan nama (hutan) leuweung sancang dan batu pijakan Prabu Siliwangi disebut Batu Kukumbung.

Silahkan dicoba sumber ceritanya ada disini :

02 Maret 2011

Wisata ke pesisir Selatan Jawa Barat, Jayanti & Ranca Buaya via Ciwidey-Cidaun (Bag 2)


Di Pantai Jayanti ada semacam teluk kecil tempat perahu nelayan ditambatkan dan merupakan teluk untuk keluar masuk kapal nelayan tanpa menerjang ombak, para nelayan menyebutnya 'lawang' (pintu). Kesannya emang cukup mistis, karena disebelah Pantai Jayanti ada hutan lindung yang kemungkinan berkaitan erat dengan petilasan Prabu Siliwangi Raja Pajajaran.


Sayang, pemerintah setempat kurang (belum) memaksimalkan pantai ini, jadi terkesan tidak begitu tertata, padahal kalau mau ditata, pasti lebih bagus.


Hutan lindung disebelah Pantai Jayanti ini, rencananya disana ada lokasi wisata - ziarah - mancing yang disebut batu kukumbung, disana terdapat situs jejak/tapak prabu Siliwangi. Katanya situs bersejarah ini baru akan dibuka besok, sepertinya bakal menjadi tempat favorit nantinya.



Situs batu kukumbung terdapat di Kampung Cigebang, Desa Karangwangi, Kecamatan Cidaun, Cianjur, beberapa menit dari pantai jayanti menuju Rancabuaya.




kita selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Ranca Buaya, sekitar setengah jam dari pantai Jayanti. Ranca Buaya dalam peta masuk wilayah Garut Selatan, walaupun dari kota Garut ke Rancabuaya butuh waktu 3 jam-an lebih.

di pesisir Rancabuaya pemandangannya cantik, pesisir pantainya didominasi oleh tebing-tebing dan karang sehingga tidak terlalu cocok untuk berenang. Bagi yang mau berenang bisa cari titik-titik lain untuk berenang yang ada diantara jalur Ranca Buaya - Pameungpeuk banyak spot-spot pantai untuk di kunjungi, tapi kadang-kadang tak terurus, ada loket karcis/portal tapi tak ada yg menjaga. Klo mau dimasuki jadi agak gimana gituu...

Seperti di Pantai Wisata pasir putih Gunung Geder, ga jelas penjaganya, sayang, padahal tempat yang menawan, katanya sih mo ngalahin kuta bali, amin.



27 Februari 2011

Wisata ke pesisir Selatan Jawa Barat, Jayanti & Ranca Buaya via Ciwidey-Cidaun (Bag 1)


Apa kabar teman-temin sekalian, sudah lama tidak berjumpa ya, kali ini Bambam ma Agit mau cerita yg lengkap tentang tempat wisata di Pesisir Jawa Barat Bagian Selatan khususnya dari Bandung-ciwidey ke Cidaun, Jayanti, Ranca Buaya. Sebelumnya sudah ada cerita kesana, tapi makin banyak sodara-sodara pada pengen tahu rute yang bener dan lengkap biar ga kesasar kesana.

Inget ya, perjalanan kesana bisa lewat banyak rute, tapiii rute yang paling eksotis dan menawan hanya lewat Ciwidey, karena pemandangannya yang luar biasa indah, pegunungan kebun teh, hutan lebat, persawahan, tebing-tebing, sungai-sungai dan diakhiri di pantai-pantai yang menghadap samudra Indonesia. Berbeda kalau lewat Garut-Cikajang-Pameungpeuk yang rute jalannya sudah umum dilewati kendaraan dan lebih jauh, kalau lewat Ciwidey-Cidaun kendaraan yg berpaspasan bisa diitung dengan jari dan jalurnya lebih seru dan menantang. Bisa Juga lewat Bandung-Pangalengan-Rancabuaya, cuma jalurnya saat ini jauh lebih buruk, jalur sakit perut, karena jalan jeleknya panjang, mungkin beberapa tahun kedepan pemdanya akan melebarkan dan memperbaiki jalur ini.
Dimulai dari kota Bandung (kalau yang dari Jakarta bisa ambil keluar Pintu Tol Kopo) trus ke arah Soreang. Enakan berangkat sepagi mungkin karena kalau sudah siang sedikit bakal banyak ketemu yang wisata ke kawah putih - situpatenggang yang kalau sudah Rame malah bisa kena macett dan tujuan utamanya bukan kedua daerah wisata tersebut.

Kalau jalan kosong, Bandung-Ciwidey bisa ditempuh 1 jam-an, dari kota Ciwidey kita melakukan perjalanan ke jalan danau situ patenggang tapi jangan masuk ke tempat wisatanya, ketika sampai ke persimpangan yang kekanan masuk ke wisata situ patenggang, nah kita ambil jalur kiri yang ke arah balegede-naringgul-cidaun.

Disinilah perjalanan yang seru dimulai, kalau biasanya udah takjub lihat pemandangan di seputaran situ patengan, nah jalur ini lebih keren lagii, dalam waktu sekitar setengah jam kita disuguhi hamparan pemandangan kebun teh yang ga ada ujungnya dengan lika-liku jalan yang yang ga bikin ngantuk. Jangan lupa baca plang tanda jalan, karena ada satu persimpangan dengan plang arah yang kecil menunjukkan arah ke Cidaun, kalao bingung, tanya saja ke para pemetik teh yang biasanya memetik di sisi jalan.

Kalo berangkat pagi, biasanya kita bisa dapet gambar yang sangat bagus, karena kabutnya tipis dan sinar matahari pagi nampak jelas menembus hamparan kebun teh yang luas banget. Ada tempat bagus buat ngopi pagi klo kita berangkat pagi belum sarapan. Nikmat banget bawa roti/makanan dari rumah, trusss ngopi disini, bikin ngilerrrr...






Selanjutnya perjalanan dilanjutkan, setelah hamparan luas kebun teh, masuklah kita ke wilayah Cianjur Selatan. Jangan heran, Ciwidey itu bagian wilayah Kab. Bandung, perbatasan Ciwidey itu masuk wilayah Cianjur selatan. Begitu masuk nampak jelas batas dari perkebunan teh langsung disuguhi pemandangan hutan lebat (klo ga salah sih..) pohon pinus. Kabut yang baru turun dari pegunungan di Ciwidey bikin pemandangan serasa bukan di Indonesia. Hutan lebat yang ditembusi cahaya matahai pagi bener-bener bikin takjub.

Selepas hutan kita menuju wilayah Balegede yang merupakan persawahan luas. Jangan tidur, dalam satu jam kedepan di kanan-kiri jalan, merupakan lembah-lembah hijau berbatu dengan semburan beberapa air terjun yang bisa dilihat langsung ga pake bayar. Perkampungan penduduk ada di sepanjang jalan, jadi yang pake motor ga usah khawatir klo ban bocor, karena tiap 10-20 menit pasti ada tempat bengkel/tambal ban dan warung.



Selepas Balegede menuju Naringgul, jalan semakin seru, kendaraan kita berjalan di sisi tebing, kita bahkan bisa menemukan air terjun tepat di pinggir jalan.






Nah, sekitar satu jam-an lewat Naringgul menuju Cidaun, barulah tanda-tanda bau laut mulai terasa.


Begitu kita bisa melihat laut dari dataran tinggi berarti sudah sampai di Cidaun, jangan lupa ketika sampai cidaun ketemu pertigaan (ada plangnya) belok kiri dan saatnya melepaskan lelah sejenak karena setelah melewati perjalanan yg eksotis kadang perlu mampir dulu ke mini market wkwkwkwk... (waktu berangkat mikirnya ga kehidupan disana, ternyata minimarket lengkap dan harga normal)



Dari Cidaun, setelah dari mini market melengkapi perbekalan yg abis selama perjalanan, kita lanjutkan menuju pantai Jayanti. Kalau menurut peta, Pantai Jayanti berada di wilayahnya Cianjur Selatan, pantainya orang Cianjur.



Disini kita bisa beli ikan langsung dari pelelangan dan dimasak di warung-warung sekitar.

Ada tempat penginapan juga bagi yang mau menginap, biasanya yang hobi mancing suka ke Pantai Jayanti ini.